Terbaik bagi Anda, Terbaik bagi Kami

Detil Berita









iklan_kiri18.jpg

Admin Website | Sabtu, 14 Jun 2014 09:57 WIB

Preeklamsia (Keracunan Pada Kehamilan)




Preeklamsia adalah keracunan pada kehamilan yang biasanya ditandai adanya hipertensi / darah tinggi disertai proteinuria (protein dalam air kencing) dan edema (bengkak di tubuh akibat kehamilan setelah usia kehamilan lebih 20 minggu atau segera setelah persalinan). Preeklamsia merupakan satu diantara tiga penyebab utama kematian serta penyakit pada bayi dan ibu hamil di seluruh dnia, disamping perdarahan dan infeksi.

Secara internasional kejadian preeklamsia dapat diperkirakan sebagai berikut :

  1. Primigravida (baru pertama kali hamil) sekitar 7-12 %
  2. Pada kehamilan multigravida (sudah beberapa kali hamil) sekitar 5-8 %

Di Indonesia diperkirakan kejadian preeklamsia sekitar 6-12 %.

Penyebab

Belum diketahui secara pasti, sehingga penyakit ini sering disebut juga sebagai disease of theory. Teori-teori tersebut antara lain :

  1. Peran prostasiklin dan Tromboksan
  2. Peran Faktor Imunologis
  3. Peran Faktor Genetik
  4. Disfungsi Endotel

Faktor Resiko yang Dapat Memicu Terjadinya Preeklamsia

  1. Resiko yang berhubungan dengan partner laki
  1. Primigravida
  2. Primipaternity
  3. Umur yang ekstrem : terlalu muda (<18 tahun) atau terlalu tua (>35 tahun) untuk kehamilan
  4. Partner laki yang pernah menikahi wanita yang kemudian hamiln dan mengalami preeklamsia
  5. Pemaparan terbatas terhadap sperma
  6. Inseminasi donor dan donor oocyte
  1. Resiko yang berhubungan dengan riwayat penyakit dahulu dan riwayat penyakit keluarga
  1. Riwayat pernah preeklamsia
  2. Hipertensi kronik
  3. Penyakit ginjal
  4. Obesitas indeks masa tubuh 35+
  5. Diabetes gestasional, diabetes mellitus tipe 1
  6. Anti phospholipid antibodies dan hyperhomocysteinemia
  1. Resiko yang berhubungan dengan kehamilan
  1. Mola hidotidosa
  2. Kehamilan ganda
  3. Infeksi saluran kencing pada kehamilan
  4. Hydrops fetalis
  5. Jarak kehamilan < 2 tahun atau > 10 tahun

Klasifikasi

Dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :

  1. Preeklamsia Ringan, gejala klinis meliputi :
  1. Tekanan darah sistolik 140 mmHg sampai <160 mmHg; diastolik 90 mmHg sampai <110 mmHg, atau kenaikan sistolik 30 mmHg, atau kenikan diastolik 15 mmHg.
  2. Proteinuria : ≥ 300 mg / 24 jam jumlah urine atau dipstick : ≥ 1+.
  3. Pembengkakan pada pretibia, dinding abdomen, lumbosakral, wajah atau tangan.
  4. Kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih per minggu selama 2 kali berturut-turut.
  1. Preeklamsia Berat, gejala klinis meliputi :
  1. Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau lebih dan atau diastolik 110 mmHg atau lebih, diukur dua kali dengan waktu sekurang-kurangnya 6 jam dan pasien dalam keadaan istirahat rebah.
  2. Proteinuria 5 gr atau lebih dalam 24 jam.
  3. Oliguri yaitu produksi urine 400 cc atau kurang dalam waktu 24 jam.
  4. Gangguan selebral atau ganggua penglihatan.
  5. Nyeri perut bagian atas, biasanya di bawah rusuk bagian kanan disertai mual.
  6. Edema paru atau sianosis.
  7. Trombositopeni.
  8. Gangguan fungsi hati.
  9. Pertumbuhan janin terhambat.

Komplikasi Pada Kehamilan

  1. Berkurangnya aliran darah menuju plasenta

Jika plasenta tidak mendapat cukup darah, maka janin akan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga pertumbuhan janin melambat atau lahir dengan berat kurang atau rendah.

  1. Lepasnya plasenta

Meningkatkan resiko lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum bayi lahir (solusio plasenta), sehingga terjadi pendrahan yang mengancam bayi maupun ibunya.

  1. Sindrom HELLP

HELPP adalah singkatan dari Hemolysis (perusakan sel darah merah), Elevated Liver enzyme dan Low platelet count (meningkatnya kadar enzim dalam hati dan rendahnya jumlah sel darah dalam keseluruhan darah). Gejalanya : pening dan muntah, sakit kepala serta nyeri perut atas.

  1. Eklamsia

Jika preeklamsia tidak terkontrol maka akan terjadi eklamsia. Eklamsia dapat menyebabkan kerusakan permanen organ tubuh ibu, seperti otak, hati atau ginjal. Eklamsia menyebabkan ibu kejang dan koma, serta kerusakan otak bahkan berujung pada kematian janin maupun ibunya pada saat sebelum persalinan atau sesudah persalinan.

Penatalaksanaan Preeklamsia

  1. Preeklamsia ringan, tidak selalu memerlukan obat tapi hanya pemeriksaan rutin kehamilan.
  2. Preeklamsia berat, disarankan istirahat total di tempat tidur dan menjalani perawatan di rumah sakit. Pemberian obat anti kejang MgSO4 sebagai pencegahan dan terapi kejang.
  3. Preeklamsia berat dan sidroma HELLP, kostikosteroid dapat memperbaiki fungsi hati, se darah dan membantu paru-paru bayi lebih matang bila harus terjadi kelahiran prematur.
  4. Preeklamsia pada minggu akhir kehamilan, dokter akan mengambil tindakan untuk segera mengeluarkan bayi.
  5. Preeklamsia yang terjadi awal kehamilan, dokter akan berusaha untuk memperpanjang masa kehamilan sampai bayi dianggap telah cukup kuat untuk lahir.
  6. Preeklamsia yang sudah mendekati tanggal perkiraan kelahiran, dokter akan menyarankan untuk melahirkan bayi sesegera mungkin. Dokter dapat merekomendasikan pemakaian obat penurun tekanan darah bila tensi ≥ 180/110 atau MAP ≥ 126. Jenis obat yang diberikan : Nifedipine 10-20 mg oral, diulangi setelah 30 menit, maksimum 120 mg dalam 24 jam.

Pencegahan

Lakukan pemeriksaan rutin kepada dokter kandungan setiap bulan pada setiap ibu hamil agar perkembangan berat badan, urin serta tekanan darah ibu dapat terpantau dnegan baik. Sebaiknya ibu menjalani pola makan yang sehat dengan menu seimbang mengingat obesitas merupakan salah satu faktor pencetus preeklamsia. Idealnya pola maka yang sehat dengan menu seimbang dan menjaga berat tubuh sejak sebelum hamil atau ketika merencanakan kehamilan dapat mengurangi resiko terkena preeklamsia.

dr. Dedy Soeharmawan, Sp.OG, MSi, Med